Beritapacitan.com, PACITAN – Ketika Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Desa Kendal, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan mangkrak alias tak kunjung berjalan optimal, inisiatif justru datang dari warga.
Bangunan yang sempat mangkrak itu kini dimanfaatkan sebagai unit produksi pupuk kompos berbahan kotoran hewan.
Kepala Dusun Kendal sekaligus Kepala Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kendal, Turmudi, mengalihfungsikan fasilitas tersebut menjadi tempat pengolahan pupuk organik murni tanpa campuran bahan kimia.
Sejak 2023, pengelolaan unit produksi sepenuhnya berada di bawah tanggung jawabnya menyusul reorganisasi kepengurusan KSM.
“Sebelumnya sudah ada kegiatan, tapi tidak maksimal. Setelah diserahkan ke saya, kami fokuskan untuk produksi kompos,” kata Turmudi saat ditemui Beritapacitan com, Kamis, 9 Januari 2026.
Saat ini, unit produksi didukung dua mesin pabrikan berupa mesin penggiling dan mesin pengayak bermesin diesel Kubota.
Meski masih dalam keterbatasan, proses produksi terus berjalan dengan melibatkan sedikitnya lima pekerja lokal.
Aktivitas pengolahan kerap dilakukan pada malam hari menyesuaikan waktu luang para pekerja.
Bahan baku kompos berasal dari kotoran sapi kering, daun hijau tidak berminyak seperti daun jati, serta rumput gunung atau suket jarongan.

Seluruh bahan difermentasi secara alami menggunakan molase racikan sendiri dari nanas dan gula pasir.
“Kotoran sapi disusun sebagai lapisan dasar, ditutup daun hijau, lalu dilapisi lagi kotoran sapi. Setelah disiram molase, ditutup plastik 12 sampai 15 hari,” jelasnya.
Setelah fermentasi selesai, bahan digiling dan diayak hingga halus sebelum dikemas.
Menurut Turmudi, pupuk organik tersebut cocok digunakan untuk tanaman jagung, kacang, dan tanaman ladang lainnya.
“Kalau sudah jadi rabuk, baunya langsung hilang,” ujarnya.
Unit produksi kompos KSM Kendal berdiri di atas lahan seluas 12 x 26 meter dengan bangunan permanen yang menyerupai pabrik kecil.
Lokasi itu sejatinya merupakan TPS 3R yang tidak berfungsi sebagaimana peruntukannya.
“Karena TPS 3R tidak bisa berjalan dengan baik, akhirnya dimanfaatkan untuk pengelolaan kompos,” kata Turmudi.
Meski produksi berjalan, persoalan pemasaran masih menjadi kendala. Produk pupuk kompos belum melalui uji laboratorium, sementara biaya pengujian dinilai cukup mahal.
Upaya pengusulan bantuan uji laboratorium melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sempat dilakukan, namun hingga kini belum terealisasi.
“Karena awalnya ini TPS 3R, jadi sempat mau diusulkan untuk uji lab,” ujarnya.
Selain itu, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah juga masih rendah.
Warga Desa Kendal disebut enggan membayar iuran sampah meski hanya Rp5.000, dan lebih memilih mengubur sampah di pekarangan rumah.
Dari sisi produksi, Turmudi mengaku siap memenuhi permintaan pasar. Namun akses pasar dan legalitas masih menjadi hambatan utama.
Ketersediaan bahan baku pun tidak selalu stabil. Kotoran sapi dibeli dengan harga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per muatan dan diangkut menggunakan kendaraan tosa.
Pada 2024 lalu, KSM Kendal bahkan memanfaatkan bongkaran kandang sapi yang diangkut hingga 23 dam truk. Harga pupuk kompos dipasarkan Rp30 ribu per sak plastik.
Di tengah fasilitas yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, inisiatif warga Desa Kendal menunjukkan solusi tetap bisa tumbuh dari bawah.(*)












