Beritapacitan.com, PACITAN – Upaya mengembalikan jati diri ibu kota prasejarah, Budayawan Pacitan, Jawa Timur, Johan Perwiranto (55) angkat bicara.
“Banyak orang yang kurang paham tentang budaya, taunya itu cuma seni. Padahal seni adalah bagian daripada budaya itu sendiri,” katanya, Kamis (8/9/2021).
Dirinya menilai, manusia sebagai khalifah sekaligus hamba dari Sang Pencipta dalam memahami budaya yang penuh kompleksitas tidak bisa dengan mudah hanya sekilas. Melainkan harus menyelami hingga ke dasar ruhiyahnya.
“Apalagi ditransformasikan kepada generasi mendatang hanya melalui paket instruksional, maka yang terjadi malah kebekuan budaya itu sendiri. Artinya berhenti pada badan wadag belaka,” imbuhnya.

Lebih lanjut, budayawan yang juga pemilik Sanggar Jagrag ini menegaskan. Mempelajari budaya harus memiliki tujuan dan fungsi yang dimuarakan untuk perbaikan tata hidup manusia.
“Sebab, jika itu terjadi pada landscape kebudayaan dampaknya adalah mala-petaka yang sangat besar. Memiliki kepribadian budaya bukanlah mereka yang mahir soal skil, keterampilan dan ahli dalam profesi. Sebagai masyarakat yang kulturnya Jawa, dituntut untuk beradab,” jelasnya.
Ditanya terkait jati diri Pacitan sebagai ibu kota prasejarah, Johan mengatakan sekitar 261 lokasi situs prasejarah terdapat di Pacitan, baik dalam tahapan eksploitasi maupun yang telah disurvey tim arkeologi. Situs tersebut berada di jajaran Gunung Sewu, yang tersebar mulai di Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung hingga Kecamatan Tulakan.
“Sejarah mencatat, seorang peneliti bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada tahun 1935 menemukan beberapa hasil peradaban masa praaksara berupa bebatuan atau alat-alat dari batu. Penemuan ini kemudian dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan atau disebut Pacitanian,” terangnya.
Di tahun yang sama, Johan menjelaskan, penemuan tersebut terjadi di Sungai Baksooka, yang kini masuk wilayah Kecamatan Punung.
“Jadi, dengan adanya penemuan pada 261 titik di wilayah Pacitan, maka tak heran jika para sejarawan dunia menyebut Pacitan sebagai ibukota prasejarah,” tegasnya.
Selain itu, menurut Johan, ciri-ciri Kebudayaan Pacitan yaitu alat-alat batu kasar menyerupai kapak perimbas yang ujungnya lancip. Manusia purba muncul pertama kali pada zaman Paleolitikum atau Zaman Batu Tua yang dimulai sekitar 3,3 juta tahun yang lalu hingga Pleistosen akhir sekitar 11.650 tahun yang lalu. Peradaban atau hasil budaya zaman Paleolitikum ini dibagi menjadi dua yaitu Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.
“Bahkan ditemukan dua kerangka manusia prasejarah ras Austrialoid di Goa Song Terus dan ras Mongoloid di Goa Song Keplek. Cukup bukti bahwa indikasi Punung sebagai pusat peradaban masa lampau itu memang benar. Tak heran jika sejarawan mencatat Poenoeng sebagai ibukota prasejarah,” katanya.
Terakhir ia menegaskan, masyarakat Pacitan memiliki budaya yang luhur berupa nilai tepa selira, sapa aruh, gotong royong, anggah ungguh yang terpatri dalam sanubari. Sebab, kebudayaan ibukota prasejarah tidak akan pernah ditemukan di daerah lain.
“Ya, kan sudah jelas bukti dan daya dukungnya. Jadi kita perlu berdiskusi untuk membuktikan kebenaran serta bukti-bukti sejarah dengan referensi yang kuat. Apalagi bicara sejarah Pacitan itu sendiri jangan statement ngalor ngidul. Itu sama halnya mewariskan kebohongan kepada generasi kita,” ujarnya saat ditemui TIMES Indonesia di kediamannya, Sanggar Jagrag, terkait pengembalian jati diri Pacitan sebagai ibukota prasejarah. (Yf/red)











