Beritapacitan.com, PACITAN – Penghargaan yang diraih Pemerintah Kabupaten Pacitan sebagai Peringkat II Penurunan Pengangguran Terbaik Tingkat Kabupaten Regional Jawa-Bali mendapat sorotan dari kalangan mahasiswa.
Ketua PC PMII Pacitan, Sunardi, menilai penurunan angka pengangguran perlu dikaji lebih mendalam karena belum tentu sepenuhnya mencerminkan membaiknya kondisi ketenagakerjaan di daerah.
Menurut Sunardi, salah satu fenomena yang perlu mendapat perhatian adalah munculnya pencari kerja yang kehilangan harapan setelah berulang kali gagal memperoleh pekerjaan di Pacitan.
“Turun tapi tidak sesuai riil. Jadi yang angka pengangguran itu turun diakibatkan karena pencari kerja rata-rata putus asa mencari kerja di Pacitan karena tidak ada. Setelah mendaftar berkali-kali akhirnya putus asa. Nah itu salah satunya yang membuat trafik data di BPS menurun,” ujarnya, Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia menjelaskan, dalam konsep ketenagakerjaan, seseorang yang tidak lagi aktif mencari pekerjaan dapat tidak lagi masuk dalam kategori pengangguran terbuka.
Kondisi inilah yang menurutnya perlu menjadi perhatian ketika membaca data penurunan pengangguran.
“Dan rata-rata pekerja di atas 2 jam, terkadang yang hanya membantu orang tuanya merumput. Contoh iku ya sudah di anggep tidak nganggur ,tapi soal penghasilan itukan tidak pasti dan malah tidak dapat penghasil sama sekali,” ungkapnya.
Sunardi menegaskan pihaknya tetap mengapresiasi penghargaan yang diterima Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Namun, ia mengingatkan bahwa angka statistik harus dibaca secara komprehensif agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru mengenai kondisi riil di lapangan.
“Kami mengapresiasi penghargaan tersebut. Tetapi pemerintah juga harus melihat kondisi sebenarnya. Jangan sampai angka pengangguran turun, tetapi peluang kerja yang tersedia masih terbatas,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan per Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pacitan tercatat sebesar 1,40 persen dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 80,82 persen.
Meski demikian, data yang sama menunjukkan lebih dari 78 persen tenaga kerja di Pacitan masih bekerja di sektor informal, seperti pertanian, perdagangan kecil, dan jasa sederhana.
Menurut Sunardi, dominasi sektor informal tersebut menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan di Pacitan tidak hanya soal jumlah pekerjaan, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.
“Persoalan kita hari ini bukan hanya menurunkan angka pengangguran, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan yang layak, memiliki kepastian pendapatan, dan memberikan perlindungan bagi pekerja,” ujarnya.
PMII Pacitan juga menyoroti tingginya angka perantauan tenaga kerja muda ke luar daerah.
Banyak lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi memilih mencari pekerjaan di kota-kota besar karena kesempatan kerja formal di Pacitan dinilai masih terbatas.
“Kita perlu bertanya secara jujur, apakah pengangguran turun karena lapangan kerja berkualitas bertambah di Pacitan, atau karena banyak anak muda produktif memilih bekerja di luar daerah?” kata Sunardi.
Sebelumnya, Kepala BPS Pacitan, Kiki Ferdiana, juga mengingatkan bahwa rendahnya angka pengangguran tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sebagian besar pekerjaan yang tersedia masih berada di sektor informal yang rentan terhadap berbagai risiko ekonomi.
PMII Pacitan berharap penghargaan yang diterima pemerintah daerah dapat menjadi pemacu untuk meningkatkan kualitas pembangunan ketenagakerjaan, memperluas investasi yang menyerap tenaga kerja lokal, serta menghadirkan lebih banyak lapangan kerja formal bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki pekerjaan yang layak, pendapatan yang cukup, dan tidak perlu meninggalkan Pacitan untuk mencari penghidupan yang lebih baik,” pungkas Sunardi.(*)







