Beritapacitan.com, PACITAN – Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pacitan menyoroti mulai lunturnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial.
Organisasi mahasiswa tersebut menilai penguatan ideologi kebangsaan tidak cukup hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan keteladanan nyata dari para pemimpin dan pejabat publik.
Ketua PC PMII Pacitan, Sunardi, mengatakan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai agenda seremonial tahunan.
Momentum tersebut harus menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat generasi muda semakin akrab dengan berbagai tren global.
Namun di sisi lain, pemahaman mendalam terhadap identitas kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila dinilai belum sepenuhnya tertanam.
“Pancasila sering kali hanya menjadi hafalan lima sila, belum menjadi pedoman dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak,” kata Sunardi, 30 Mei 2026.
Ia menilai berbagai fenomena seperti intoleransi, perundungan di ruang digital, penyebaran hoaks, rendahnya budaya musyawarah, hingga menguatnya sikap individualistik menjadi indikator bahwa sebagian nilai Pancasila mulai mengalami degradasi.
Dalam konteks tersebut, Sunardi menegaskan bahwa pejabat publik memiliki peran penting sebagai teladan.
Menurutnya, generasi muda tidak hanya membutuhkan ceramah tentang Pancasila, tetapi juga contoh nyata penerapan nilai-nilai tersebut dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan sehari-hari.
“Pejabat harus menjadi contoh dalam menjunjung kejujuran, keadilan, semangat gotong royong, dan keberpihakan kepada masyarakat. Keteladanan itu jauh lebih efektif dibanding sekadar slogan atau seremoni,” ujarnya.
PMII Pacitan menilai upaya menjaga Pancasila tidak bisa dibebankan kepada dunia pendidikan semata.
Pemerintah daerah juga perlu menghadirkan kebijakan yang mampu memperkuat karakter kebangsaan, termasuk membuka ruang partisipasi pemuda dalam pembangunan daerah.
Selain itu, organisasi tersebut mendorong penguatan literasi digital untuk membentengi generasi muda dari hoaks, radikalisme, dan polarisasi sosial yang berkembang di ruang digital.
Ruang-ruang kebudayaan, diskusi publik, serta kegiatan gotong royong juga dinilai perlu dihidupkan kembali sebagai sarana internalisasi nilai-nilai Pancasila.
Sunardi menambahkan, tantangan terhadap Pancasila saat ini tidak selalu datang dari upaya mengganti dasar negara.
Ancaman yang lebih nyata justru muncul ketika nilai toleransi, gotong royong, dan keadilan sosial mulai memudar dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia berharap Hari Lahir Pancasila menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen seluruh elemen bangsa, termasuk para pejabat, dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara konsisten.
“Menjaga Pancasila berarti menjaga karakter bangsa. Jika para pemimpin mampu memberi teladan yang baik, generasi muda akan lebih mudah meneladani dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.(*)








