Berita Pacitan, PACITAN- Akibat cuaca yang tak bersahabat, sejumlah pengusaha grubi di Pacitan mengeluhkan penurunan kualitas ubi jalar yang menjadi bahan utama produk mereka.
Ubi jalar yang seharusnya menjadi komoditas unggulan kini memiliki kandungan air yang berlebih, sehingga lebih cepat busuk dan memengaruhi proses produksi secara keseluruhan.
Salah satu putra pengusaha lokal, Ahmad Ali, yang berdomisili di Klepu, Dadapan, Pringkuku, menjelaskan bahwa kondisi ubi jalar yang terlalu berair menyebabkan berbagai dampak negatif dalam proses produksi grubi.
“Waktu memasak jadi lebih lama, biasanya hanya 15 menit per masakan, sekarang bisa mencapai 30 menit karena air dalam ketela harus lebih dulu dikurangi,” jelas Ali kepada Berita Pacitan pada Rabu, 15 Januari 2025.
Hal ini juga berdampak pada penggunaan gas yang semakin boros. “Kalau biasanya gas cukup untuk 60 pcs grubi, sekarang hanya bisa untuk 30 pcs, tapi pengeluaran gas tetap sama,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, ubi jalar yang terlalu berair juga lebih cepat mengalami pembusukan. Akibatnya, pengusaha harus segera mengolah ubi jalar begitu bahan diterima, untuk mencegah kerugian lebih besar.
“Kalau biasanya ubi jalar bisa disimpan cukup lama, sekarang harus segera diolah. Beberapa bahkan harus dibuang karena sudah busuk,” keluh Ali.
Kondisi ini memengaruhi efisiensi produksi dan meningkatkan biaya operasional para pengusaha grubi di Pacitan. Ahmad Ali berharap adanya solusi, baik dari pihak petani maupun dinas terkait, untuk mengatasi permasalahan ini, agar produksi grubi khas Pacitan tetap berjalan lancar dan berkualitas. (*)