Beritapacitan.com, PACITAN— Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak terus menjadi perhatian serius di Kabupaten Pacitan.
Pernyataan bahwa PMK dapat disamakan dengan sariawan pada manusia yang disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Sugeng Santoso, menuai beragam tanggapan.
Sugeng menyebutkan bahwa PMK dapat sembuh dengan penanganan yang tepat, sehingga peternak diimbau untuk tidak panik. Namun, dari perspektif ilmiah, penyamaan ini dinilai kurang tepat.
Salah satu pakar kesehatan hewan, menjelaskan bahwa PMK adalah penyakit virus yang serius.
“PMK disebabkan oleh Foot-and-Mouth Disease Virus (FMDV), yang sangat menular dan berdampak besar pada hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba,” jelas Andri Eko, kepada Berita Pacitan, Selasa, 21 Januari 2025.
Kabid PKH DKPP Pacitan, Agus Rustamto, menambahkan bahwa dampak PMK jauh lebih parah dibandingkan sariawan pada manusia.
“PMK tidak hanya menimbulkan luka di mulut dan kuku ternak, tetapi juga memengaruhi produktivitas. Gejala seperti kesulitan makan dan bergerak membuat penyakit ini jauh lebih serius dibandingkan sariawan biasa pada manusia, yang umumnya tidak memengaruhi fungsi tubuh secara signifikan,” ucapnya.
Data Terbaru Kasus PMK di Pacitan
Berdasarkan data terbaru, tercatat 1.055 kasus PMK di Pacitan, dengan rincian:
- 70 ekor ternak masih sakit,
- 100 ekor mati dan dikubur,
- 63 ekor dipotong paksa,
- 822 ekor dalam perawatan.
Meski belum ada laporan kematian pada sapi perah, langkah antisipasi tetap harus diperkuat.
Pemerintah Kabupaten Pacitan terus berupaya menangani PMK dengan memberikan vaksinasi kepada ternak. Selain itu, peternak diberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan kandang untuk mencegah penyebaran virus.
“Kami juga mengimbau peternak untuk memberikan pakan berkualitas agar kesehatan ternak tetap terjaga,” tambah Agus.
Langkah-langkah antisipatif ini diharapkan mampu menekan penyebaran PMK dan menjaga produktivitas peternakan di wilayah Pacitan.
“PMK bukan sekadar sariawan biasa. Edukasi dan penanganan yang tepat menjadi kunci utama untuk melindungi hewan ternak dari dampak buruk penyakit ini,” pungkasnya. (*)