Beritapacitan.com, PACITAN – Di tengah semangat Ramadan yang identik dengan kepedulian, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pacitan memilih turun langsung menyisir rumah-rumah warga.
Bukan sekadar berbagi, melainkan memastikan bantuan benar-benar menyentuh mereka yang kerap luput dari perhatian.
Selama 15 hingga 18 Maret 2026, kader PMII bergerak di tiga kecamatan, yakni Kebonagung, Bandar, dan Pacitan.
Dengan metode door to door, mereka mendapati kenyataan bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan, bahkan di usia senja.
Salah satunya Ponijan (76), warga Desa Plubungan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, yang hidup sebatang kara. Di rumah sederhana yang jauh dari kata layak, ia menjalani hari-harinya tanpa pendamping.
Istrinya telah lama meninggal, sementara ia tidak memiliki anak yang merawatnya.
Kehadiran kader PMII yang datang membawa bantuan menjadi momen yang tak biasa bagi Ponijan.
Dengan suara pelan dan raut wajah haru, ia menyampaikan rasa syukurnya.
“Terima kasih ya nak, saya tidak bisa membalas apa-apa, semoga allah SWT membalas kebaikan kalian semua.,” ucapnya. Rabu (18/3/2026).
Bagi PMII, pertemuan seperti ini menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan bukan sekadar angka bantuan, tetapi tentang menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
Ketua PMII Pacitan, Sunardi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa, sekaligus upaya menghadirkan kebermanfaatan nyata di tengah masyarakat.
“Kami ingin memastikan bantuan ini tepat sasaran. Dengan turun langsung, kami bisa melihat kondisi riil warga, dan memang masih banyak yang membutuhkan perhatian,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan langsung ke rumah warga menjadi langkah penting agar bantuan tidak berhenti pada simbol, tetapi benar-benar dirasakan oleh penerima.
“PMII harus hadir sebagai kekuatan sosial. Apa yang kami lakukan mungkin sederhana, tetapi harus konsisten dan menyentuh mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Kegiatan ini pun menjadi refleksi bahwa di balik geliat kehidupan masyarakat, masih ada cerita sunyi yang membutuhkan kepedulian.
Dan di momen Ramadan, kehadiran kecil yang tulus kerap menjadi arti besar bagi mereka yang menjalani hari dalam keterbatasan.(*)







