Beritapacitan.com, PACITAN–Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Sambong bersama berbagai organisasi lintas desa menggelar acara Megengan di Masjid Muttaqiin, Dusun Bareng, Desa Sambong, Pacitan.
Kegiatan ini menjadi wujud pelestarian budaya lokal yang sarat makna dan filosofi.
Megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan. Tradisi ini mengajarkan umat Islam untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan ibadah puasa, seperti makan, minum, serta perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
Selain itu, Megengan juga memiliki makna mendalam sebagai doa keselamatan menjelang Ramadan, agar umat Islam siap secara lahir dan batin untuk menjalankan ibadah puasa.
Menurut Satkorkel Sambon, Budi Hernowo, kegiatan ini diinisiasi oleh Pengurus Ranting NU Desa Sambong dan melibatkan berbagai organisasi, seperti Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, Banser, Rijalul Ansor, Ikatan Alumni Pondok Tremas, Kalimosodo, Karang Taruna, serta Persaudaraan Setia Hati Terate.
Acara semakin semarak dengan lantunan sholawat dari grup hadroh se-Desa Sambong dan tausiyah dari Ustaz Sardi dari Perguruan Islam Pondok Tremas.
“Kegiatan Megengan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus memperkuat tradisi keagamaan masyarakat Sambong yang sudah berlangsung turun-temurun,” ujar Budi Hernowo.
Ketua NU Desa Sambong sekaligus ketua pelaksana, Shahabat Solikin, menambahkan bahwa Megengan juga menjadi ajang untuk menguatkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah masyarakat.
“Tradisi keagamaan Islam Nusantara harus terus dilestarikan, karena belakangan ini mulai tergerus oleh paham Islam transnasional yang kurang menghargai budaya lokal,” jelasnya.
Acara yang berlangsung mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Kepala Desa Sambong, kepala dusun, ketua lintas organisasi, dan masyarakat Desa Sambong serta sekitarnya.
Warga tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama, sholawatan, hingga ceramah agama.
Mengutip dari NU Online, Syekh az-Zurqani dalam Syarah Mawahibul Ladduniyah (XI/222) menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadan.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan an-Nasai dari Abu Hurairah RA berbunyi:
“Bulan Ramadan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak.”
Hadits ini menjadi dasar atas praktik penyambutan Ramadan, termasuk melalui tradisi Megengan yang dilakukan masyarakat Sambong.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan tradisi Megengan tetap lestari sebagai bagian dari warisan budaya Islam Nusantara.
Selain itu, Megengan juga menjadi ajang untuk menyucikan hati, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan semangat keislaman dalam menyambut bulan penuh berkah, Ramadan.