Beritapacitan.com, PACITAN—Sentra gerabah di Dusun Padi, Desa Purwoasri, Kecamatan Bonagung, Kabupaten Pacitan, telah bertahan sejak nenek pengrajin geraba Rumini, masih kecil.
Usaha Rumini, yang akrab disapa Bu Rum melestarikannya adalah dibangun bersama keluarganya.
Meski sudah berusia kepala 8, tangan Rumini masih terus berkarya. Memproduksi berbagai jenis gerabah, baik untuk keperluan rumah tangga maupun dekorasi.
Rumini mulai belajar membuat gerabah sejak kelas 4 SD.
“Usaha gerabah ini sudah kami jalankan sejak tahun 1950-an. Kami memproduksi berbagai jenis gerabah, mulai dari pot bunga, kendi, cobek, hingga hiasan rumah seperti guci, pot berbentuk kodok, ikan, dan berbagai ornamen lainnya,” jelas Rumini kepada Berita Pacitan pada Minggu, 2 Februari 2025.
Tak hanya memproduksi produk seni, usaha ini juga mempertahankan gerabah tradisional seperti lemper, ulek-ulek wingko, kekep, jendi adah jamu, gentong, padasan, hingga cagak kuali.
Dalam proses pembuatannya, Rumini selalu mengutamakan bahan berkualitas.
“Pertama, kami memilih tanah liat berkualitas tinggi. Kemudian, tanah liat dicampur dengan air dan diaduk hingga kalis. Setelah itu, kami membentuknya menggunakan teknik putar atau cetak. Setelah kering, gerabah dibakar dalam tungku dengan suhu tinggi agar kuat dan tahan lama,” ujarnya.
Meskipun telah berjalan lama, usaha gerabah ini tetap menghadapi berbagai tantangan.
“Salah satunya adalah perubahan tren pasar dan persaingan dengan produk pabrikan. Selain itu, cuaca juga memengaruhi proses pengeringan gerabah, terutama saat musim hujan,” ungkapnya.
Namun, usaha gerabah Rumini tetap memiliki pasar yang luas. Pelanggan datang dari berbagai daerah, seperti Jeporo, Bondowoso, Karang Gupito, Gunung Kidul, Praci, Wonogiri, Ponorogo, hingga masyarakat Kabupaten Pacitan sendiri.
“Harapanya usahanya ini tetap lestari dan mampu bersaing di era modern tanpa meninggalkan nilai tradisional,” tandasnya. (*)